Air menurut Budaya Sunda:

(0 votes, average 0 out of 5)

Air menurut Budaya Sunda:

“Selamat, dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hari Hariyang-Kliwon-Ahad wuku Tambir. Inilah saat raja Sunda Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya SakalabuanamandaleswaraninditaHarogowardana Wikramotunggadewa membuat tanda di sebelah Timur Sanghyang Tapak, dibuat oleh Sri Jayabhupati Raja Sunda dan jangan ada yang melanggar ketentuan di sungai ini. Jangan ada yang menangkap ikan di bagian sungai ini mulai dari batas daerah Kabuyutan Sanghyang Tapak dibagian hulu…”

Kabuyutan dalam makna luas adalah tanah air, baik lokal, regional maupun nasional. Dalam konteks ilmu pengetahuan lingkungan saat ini, kabuyutan dapat bermakna sumber daya alam, baik hayati maupun non hayati yang meliputi: lahan, geodiversity, biodiversity (keanekaragaman hayati), yaitu hutan, sungai, gunung, dan lingkungan alam lainnya beserta kandungan isinya. Dengan kata lain, kabuyutan adalah lingkungan hidup kita. Dalam arahan pola umum ini, penekanan terletak pada kandungan kabuyutan sebagai sumber daya alam, hayati dan non hayati beserta tatanan lingkungannya.

Kabuyutan adalah salah satu dimensi paling penting dalam Budaya Sunda. Dimensi ini memuat kandungan multi nilai, diantaranya: ilmu pengetahuan dan teknologi, sejarah dan arkeologi, dan lingkungan, baik sebagai sumber daya ekonomi maupun sebagai perlindungan utuk lingkungan lainnya. Tatar Sunda banyak memiliki warisan kabuyutan dari leluhurnya, baik berupa hutan larangan (hutan lindung) yang meliputi gunung dan bukit, situs purbakala, peninggalan sejarah lainnya, sungai-sungai strategis dan lingkungannya, dan sejenisnya. (http://www.sundanet.com)

 Dibaca sebanyak 1311 kali

Komentar  

 
0 #1 Moes Jum 2010-03-25 12:12
Bagus nih ... apalagi kalo Telapak bisa juga mengumpulkan cerita2 dari etnis lain, misalnya Jawa, Madura, Batak, Minang, Melayu, Dayak, Banjar, Bali, Bugis, Toraja, Tolaki, dst dst
Quote
 

Beri komentar


Kode keamanan
Perbaharui

Link