Kunjungi Blog Cisadane
Banner

TURUN GUNUNG MENCARI AIR

(0 votes, average 0 out of 5)

sudiyah istichomah [nonette262[at]gmail[dot]com]

(Karya Sari). Kedua dusun itu terletak berdampingan, tapi kenapa kondisi keduanya begitu berlainan? Itulah yang terekam dalam pikiran saya ketika saya pulang dari Desa Karyasari, setelah selama hampir 1 minggu saya tinggal disana, akhir tahun 2009 lalu. Tepatnya di Dusun Taman Sari dan Dusun Gunung Sari, Desa Karyasari, Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Sungai Cianten yg merupakan salah satu anak Sungai Cisadane, mengalir di pinggir Desa Karyasari.

Selama 5 hari saya di sana, belajar berinteraksi dengan warga di kedua dusun tersebut, dan satu dusun lagi yaitu Sindang Jaya. Saya melihat adanya perbedaan yang mencolok di kedua wilayah tersebut. Perbedaan yang saya maksud adalah kondisi air sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia. Kedua dusun tersebut terletak di perbukitan dengan topografi yang tidak rata, tidak jauh dari Taman Nasional Gunung  Halimun Salak. Namun jika dilihat dari ketinggian, Dusun Gunung Sari terletak lebih tinggi.

Perbedaan itu akan terasa jika musim kemarau tiba. Jika kemarau datang , terlebih lagi kemarau panjang, maka bukan hal yang aneh lagi jika warga Gunung Sari akan terlihat “turun gunung” untuk mencari air di tempat lain. Sindang Jaya dan Taman Sari adalah dusun tetangga yang biasanya menjadi tempat mencari air. Di dusun ini, meskipun kemarau datang, warga tidak pernah kekurangan air. Meski mata air mengecil, sebagian besar warga masih memiliki sumur yang sepanjang tahun berair dengan fluktuasi debit yang tidak terlalu besar.

Dusun Gunung Sari mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dari mata air Citela yang dialirkan melalui pipa menuju bak-bak penampungan yang disebar merata di wilayah tersebut dan merupakan program bantuan pemerintah. Sejak tahun 2006 warga Gunung Sari mendapatkan manfaat dari pembangunan tersebut. Namun jika kemarau datang, tiba-tiba seolah bak-bak penampungan itu tidak berfungsi lagi. Bagaimana tidak? Hampir sebagian besar bak-bak penampungan itu hanya berisi sedikit air atau bahkan kering sama sekali. Tentu saja tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi untuk membuat sumur di Gunung sari termasuk sulit, karena air tanah yang cukup dalam dan debit yang tidak cukup besar. Hanya beberapa warga yang memiliki sumur dan itupun berdebit sangat kecil jika kemarau.

Kondisi berbeda dirasakan di dusun tetangganya, yaitu Taman Sari maupun Sindang jaya. Meski kemarau tiba dan mata air mengecil, hal ini tidak terlalu menjadi masalah bagi warga setempat. Selain dari bak-bak air yang berasal dari mata air, sebagian besar warga memiliki sumur untuk memenuhi kebutuhan akan air.

Menurut pendapat saya, perbedaan kondisi di kedua wilayah itu disebabkan banyak hal. Struktur lapisan tanah yang berbeda di kedua dusun tersebut menyebabkan perbedaan kondisi air tanah. Selain itu topografi yang berbukit-bukit juga berpengaruh terhadap muka air tanah.  Sehingga kondisi sumur di kedua dusun sangat berbeda. Dan yang paling utama adalah perubahan kondisi mata air Citela yang mengalami penurunan debit yang sangat tajam. Menurut keterangan salah satu warga, kondisi mata air Citela dalam 20 tahun terakhir sudah sangat jauh berbeda. Dulu Gunung Sari tidak pernah kekurangan air, namun sekarang kemarau menjadi masalah kekurangan air di wilayah itu.

Jika kita sempat berjalan-jalan di sekitar  Taman Sari, Sindang Jaya, atau Gunung Sari pada musim kemarau, bukan hal yang aneh lagi jika nanti akan kita temui warga Gunung Sari yang berbondong-bondong “turun gunung” membawa ember dan jerigen untuk mencari air dimanapun air mengalir.

 Dibaca sebanyak 588 kali

Beri komentar


Kode keamanan
Perbaharui

Link