Gerakan penyelamatan kawasan hutan jati dan mata air di Kabupaten Muna (Sulawesi Tenggara) dari praktek pembalakan liar

Ditulis oleh Khadafi Kamis, 23 September 2010 17:26

Pembabatan huhan jati pada kawasan hutan jati di Kabupaten Muna (Sulawesi Tenggara) makin tidak terkendali.  Seperti ada niat jahat terselubung dari para pelaku illegal logging untuk memusnahkan tegakan hutan jati di daerah ini. Selama 10 tahun rezim Radwan Bae berkuasa di Kabupaten Muna, selama itu pula praktek penebangan liar dalam kawasan hutan makin meluas dan terang-terangan, tidak ada lagi rasa takut...Pada detik-detik pergantian Bupati Muna (sebulan yang lalu), aktivitas penebangan di setiap kawasan hutan jati yang masih tersisa berjalan aman dan terkendali. Kawasan hutan di Labasa kini jadi lapangan sepakbola, bersih, tidak ada tunggak yg tersisa. Kawasan hutan jadi di Wakuru yang letaknya persis bersebrangan dengan kantor Polsek Tongkuno, 1 minggu lagi akan mengalami nasib sama, tegakan pohon jati kelas satu hanya tersisa  satu-dua pohon, berjejer tak beraturan berjarak hanya sekitar 10 meter dari bibir jalan protokol (jalan propinsi).

Mengerikan, memilukan...mungkin juga membuat darah mendidih alias marah...melihat keadaan Kawasan hutan Warangga saat ini, penebangan liar kayu jati sudah dilakukan secara terang-terangan. Sekedar informasi bahwa kawasan hutan Warangga merupakan daerah penyangga utama mata air Jompi). Kawasan hutan Warangga juga sebagai salah satu - dari dua areal hutan jati yang tersisa di Kab. Muna saat ini, kawasan hutan jati yang satu lagi ada di Kecamatan Napabalano yaitu Cagar Alam Napabalano), Tinggal menunggu waktu, bahkan dalam hitungan jam, Kawasan hutan Warangga akan segera berubah menjadi kawasan ladang ilalang. Titik atau posisi kawasan hutan Warangga persis berada dipinggir kota, merupakan garis batas pemisah antara kota Raha dengan hutan. Kalau ini bisa dianggap kelakar, bisa juga dianggap serius bahwa Kawasan hutan Warangga sepertinya bertetangga dengan kantor Polres Muna.

Masih dalam kawasan hutan Warangga, tegakan pohon jati yang berdiri kokoh di depan SMU 2 Raha satu per satu telah dicicil....direbahkan dengan alat tradisional (kampak), Sepanjang jalan sebelah kiri dari kuburan (fabrik kapuk) sampai di simpang tiga kampung Watuputih bergeletakan dedaunan dan ranting-ranting kayu jati yang masih basah, baru saja ditebang. Kelihatannya penebang liar sudah beroperasi masuk sejauh 20 meter kearah jantung hutan.

Siang malam, mobil truk lalu lalang di jalan Warangga menuju Watuputih dan sebaliknya, ada yang bermuatan kayu jati log lada juga yang berkeliaran mencari muatan. Terlihat juga mobil truk pengangkut sampah dengan warna khas (kuning) berplat merah sesekali terlihat dimanfaatkan mengangkut kayu jati log ukuran 2 meter (istilahnya kayu "Bebas Hati"). Mobil-mobil pengangkut sampah itu star dari dalam kota Raha menuju keatas (Watuputih), tetapi tidak sampai di TPA, muatan sampah ditumpah di pinggir jalan disepanjang jalur kuburan-watuputih, jadilah daerah itu sebagai TPA alternatif, akibatnya sepanjang jalur "warangga" tercium bau busuk sampah yang menyengat hidung...menyebar kemana-mana bahkan sampai ke kota.

Tanpa harus panjang lebar, pertanyaan paling mendasar yang sering muncul dalam obrolan warga adalah, KEMANA aparat penjaga hutan (Polhut), KEMANA pula aparat hukum (Polri). Adakah 2 jenis polisi ini menjadi bagian dari para penebang liar??? Entah menjadi backing, atau menjadi pelaku illegal logging....Yang jelas sampai sekarang mereka masih buta melihat praktek kejahatan kehutanan tersebut.

Selamatkan hutan jati kami.....selamatkan warisan leluhur kami..... selamatkan mata air kami.....
Mewakili suara kawan2 lain yang sedang prihatin dengan praktek penghancuran hutan jati, saya mengajak, memohon, minta dukungan kawan2 diseluruh pelosok negeri, tekanan via SMS kepada pihak berwenang terutama aparat polisi yang sedang jadi penonton praktek kejahatan kehutanan (illegal logging kayu jati) di daerah kami, aparat polisi melakukan pembiaran atas tindakan kejahatan yang terjadi didepan mata mereka. Caranya, kirimkan pesan singkat (SMS) kepada kepada Sdr. Kapolres Muna (AKBP Rahmat Pamuji) di nomor 081245951991. Semoga tekanan dari banyak pihak dari seluruh Indonesia bisa mengusik hati aparat penegak hukum untuk bertindak, atau bahkan bisa menjadi semangat/amunisi bagi aparat polisi yang sedang lesu untuk menghentikan kejahatan kehutanan di daerah kami....

-La Ode Muammar Kadhafi-  

Informasi Tambahan:

Berikut merupakan salah satu video yang dibuat Gekko Studio di Pulau Muna. Diharapkan dari film pendek ini, kita dapat mengetahui gambaran alam dari Pulau Muna.

Wakumoro - Oase on Muna
Uploaded by gekkostudio. - Watch feature films and entire TV shows.

Mari kita dukung sepenuhnya ajakan ini dengan menekan HP dan alat komunikasi kesayangan kita untuk kelestarian alam, lingkungan dan peradaban yang lebih baik.

 

 

inisiatif lokal dari akar ke akar

Ditulis oleh Hasto Pandito Kamis, 25 Maret 2010 11:19

Hasto Pandito [pandit_telapak[at]yahoo[dot]com]

Sumber air tanah yg keluar tidak selalu tersedia di dekat rumah kediaman kita. Sebut saja, air yang digunakan oleh warga di satu tempat yang kekurangan air diambil dari ratusan meter sampai berkilo-kilo meter dari rumahnya. Berikut cerita lengkapnya.

Sebagian besar warga di Kelurahan Cebongan, Salatiga Jawa Tengah mendapatkan sumber air bersih dari tempat penampungan yang dibuat sendiri oleh warga. Ada beberapa warga yang kemudian mengalirkan air untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangganya, menggunakan pipa dari sumber penampungan ini.Yang kemudian diikuti warga lainnya sehingga distribusi air warga terpenuhi.

 

 

Kampung Pekandangan “ciptakan Kemandirian Energi dan Pangan”

Ditulis oleh Mhd Sidik mentok_rimba[at]yahoo[dot]com Rabu, 24 Februari 2010 07:40

Mhd Sidik mentok_rimba[at]yahoo[dot]com

Kawasan hutan Register 39 merupakan Daerah hulu dari Das Way Seputih di Lampung Tengah, berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Rusaknya hutan pada 10 tahun terakhir, akibat adanya aktivitas penebangan, perambahan dan okupasi lahan, yang menimbulkan problem ekologi pada ekosistem DAS Way Seputih, hal ini berpengaruh pula pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Kampung Pekandangan merupakan Kampung yang berbatasan dengan hutan Lindung Register 39, yang merasakan dampak dari kegiatan eksploitasi yang terjadi.


 

Halaman 1 dari 2

«MulaiSebelumnya12SelanjutnyaAkhir»

Link