Apa itu NA?
Ditulis oleh Rita Mustikasari Kamis, 10 Desember 2009 09:42
Pendekatan Negosiasi dan Pengelolaan Air di IndonesiaSejak tahun 2001, sekelompok NGO dari berbagai negara yg dipimpin Both ENDS memulai mensistematisasi konsep ‘Negotiated Approach’ yang selanjutnya kita sebut Pendekatan Negosiasi, yang selama ini sudah mereka terapkan di dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu (Integrated River Basin Management; IRBM) yang pada perkembangan selanjutnya kita lebih memilih memakai prinsip kerja Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu (Integrated Water Resource Management; IWRM).
Pendekatan NA memiliki pengertian berbeda dengan kata negosiasi yg biasa kita pakai sehari-hari. Berikut adalah kutipan pengertian kata negosiasi dari KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Negosiasi artinya proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai suatu kesepakatan bersama.
Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley yg dikutip dari Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel - The Indonesia Learning Institute – INLINE (http://www.inline.or.id), dijelaskan tentang definisi NEGOSIASI yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang.
Negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:
ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.
Sedangkan Pendekatan NA adalah sebuah alat bantu kerja yang bertujuan untuk mempengaruhi dan melakukan peningkatan pengelolaan air melalui pelibatan semua pihak, terutama penitikberatan aspirasi masyarakat lokal pengguna air. Pendekatan NA menekankan adanya kebutuhan sebuah desain baru pembentukan kebijakan, dimana fokusnya memasukkan kelompok-kelompok kunci, misalnya aktor lokal dan pengguna air (water user), sebagai pelaku sesungguhnya dan terlibat di setiap tahapan pembentukan kebijakan. Secara umum sasaran IWRM NA adalah penggunaan sumberdaya air secara berkesinambungan dan distribusi yg adil atas manfaat dan biaya atas nilai guna air tersebut.
Tujuan pengembangan konsep kerja Pendekatan NA adalah untuk membangun sebuah kerangka kerja yang memungkinkan masyarakat bisa hidup dan bekerja di sebuah wilayah tangkapan air dan daerah aliran sungai. Sehingga terjadi pembangunan dan implementasi penggunaan konsep pengelolaan lokal dan aktivitas kesehariannya. Dan di sisi lain bisa mempengaruhi para pengambilan keputusan dan pembuat kebijakan di tingkat pusat.
Pendekatan NA mengharapkan para pengambil keputusan di tingkat lokal, regional dan nasional, begitu juga donor dan agen-agen multilateral, agar mengenali pentingnya peran aktor lokal yang memegang peranan dalam pengelolaan air yang berkelanjutan. Begitu juga pentingnya melibatkan aktor lokal ini ke dalam proses pembuatan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan air dan pengambilan keputusan yang menyangkut daerahnya.
Berlawanan dengan top-down, maka cara kerja NA dimulai dengan tingkat lokal, dan menuntut terjadinya sebuah perubahan hubungan kekuasaan (bergeser dari tingkat pusat ke lokal). NA mengutamakan kepentingan manusia dan alam ini, memungkinkan masyarakat di tingkat pengguna air langsung menetapkan sendiri apa saja keperluan dan prioritasnya, dan menegosiasikan kepentingan ini dengan para pihak terkait lainnya.
Pendekatan NA tidak sepenuhnya membutuhkan perubahan cara kerja pengelolaan suatu daerah aliran sungai: NA bisa saja mengasumsikan cara kerja pengelolaan air yang sudah ada berfungsi semestinya, poin utama yang tidak seimbang dan perlu dilihat lagi adalah ketidakhadiran aktor lokal. NA fokus untuk terjadinya penguatan aktor lokal sebagai aktor utama pengambil keputusan. Aktor lokal sudah seharusnya didukung agar mampu menganalisa fakta apa saja yang terjadi dan mampu memformulasikan sebuah usulan kerja (proposal) pengelolaan air yang terintegrasi untuk seluruh daerah aliran sungai. Oleh karenanya terjadi koneksi antara realitas yang ada dan visi lokal pembangunan menurut mereka menuju suatu proses yang lebih tersentral dan sebuah bentuk kelembagaan dan kerangka kebijakan.
Dengan cara pikir yang sama, NA itu tidak meminta adanya suatu praktek pengelolaan yang baru secara total di dalam manajemen DAS. Sebaliknya, analisis yang berbasis tindakan menggunakan alat kerja dan instrumen-instrumen yang ada, termasuk multi-kriteria analisis, GIS, analisis biaya manfaat (cost-benefit analysis), keseimbangan air, hydrological dan model-model analisa iklim dan cuaca, dll.
Dibaca sebanyak 1056 kaliArtikel Terkait
Terpopuler
- Drainase (3354)
- Potensi Air di Indonesia (2774)
- Pencemaran Air (2313)
- Permasalahan DAS Ciliwung-Cisadane (2243)
- Tata Guna Lahan (2102)
- Banjir dari Waktu ke Waktu (1 Januari 2010 – 22 Maret 2010) (1873)
- Air dan Kehidupan (1851)
- Air untuk Lahan Pertanian (1847)
- Pengelolaan Air Adalah: (1782)
- IPAL (Instalansi Pengolahan Air Limbah) Sungai Citepus, Anak Sungai Citarum. (1633)
- Dewi Air menurut Agama Batak disebut Boru Saniang Naga (1474)
- Air Minum (1415)
Link
- Lowongan Kerja
- Perkumpulan Telapak
- Mitra Air Telapak
- Yayasan Ulayat Bengkulu
- Both ENDS
Both ENDS supports organisations in developing countries to fight poverty and to work towards sustainable environmental management.
- Referensi
- WaterBase
The WaterBase project is an ongoing project of the United Nations University. Its aim is to advance the practice of Integrated Water Resources Management (IWRM) in developing countries. - 5th World Water Forum
The World Water Forum, organized every three years by the World Water Council in close collaboration with the authorities of the hosting country, is the largest international event in the field of water. - Indonesia Law Reporter
The world's changing and so does the provision of legal services.
- WaterBase