Pertemuan Aliansi Ekosistem ke-2 di Jambi

Ditulis oleh Rita Mustikasari Sabtu, 11 Februari 2012 12:30

404335_10150580743202236_693012235_9066703_1883710224_n

Pelaksanaan Pertemuan Aliansi Ekosistem berhasil dilaksanakan di Jambi, 31 Januari-4 Februari 2012. Peserta berasal dari perwakilan 9 LSM. Mereka ini  mendapat pendanaan kegiatan dari Pemerintah Belanda melalui 3 LSM Belanda; IUCN, Wetland International dan Both ENDS. Ke-9 LSM Indonesia ini adalah mitra dari 3-LSM Belanda. Yaitu NTFP-EP, Sawit Watch, pt.PPMA, S425863_3059532203956_1132943591_33113498_610610183_n428074_10150580450407236_693012235_9065462_525444706_namdhana, Telapak, Walhi, WBH, WI IP, Yaduppa. Beberapa mitra Samdhana juga hadir, yaitu YMI, PASA.

 Pertemuan 3 hari ini menghasilkan beberapa kesepakatan dan pemahaman bersama. Tujuan dari agenda ini ‘Membangun Komunitas untuk Merubah yang Efektif’. Sehingga kita di sini tidak hanya terikat dengan kontrak saja. Apalagi masing-masing kita bersama punya cita-cita yang saling berkait sehingga diharapkan muncul cita-cita bersama yang akan didorong.

Pertemuan diawali dengan presentasi masimg-masing LSM tentang rencana kegiatannya. Dilanjutkan dengan diskusi berdasarkan 4 tematik grup, yaitu Sustainable Livelihood Model, Land Tenure Right, MIFFE dan Oil Palm Plantation. Peluang dan rencana kegiatan International Component dipresentasikan Christa. Loby trip dan pertukaran belajar kelompok masyarakat baik diantara region, antar region atau juga antar negara di kawasan Asia menjadi poin dalam dikusi penyusunan Learning Agenda.

Informasi sekitar EA seperti yg dipresentasikan Evelien, saat ini memiliki 90 Projek di dunia dimana 40 Projek sudah berjalan. EA berkewajiban untuk melapor ke Kementerian Luar Negeri Belanda. Tahun lalu kita mempresentasikan di Kementerian mengenai target kita. Sekitar 379 target dari 8500 target sudah tercapai yang dilakukan oleh NTFP EP, Samdhana, Warsi, Walhi dan PPMA. Selain mendukung untuk mencapai target, kami juga menerima inisiatif-inisiatif atau ide-ide lain yang searah dengan target EA. Hal ini dapat dilihat dari target yang ada di Indonesia. Indonesia menjadi negara pertama dilakukannya pertemuan Mitra karena NGO-NGO di Indonesia lebih cepat inisiatifnya dan lebih proaktif.

Latar belakang kunjungan lapang. Di Jambi saat ini proses konversi hutan masih terjadi dari Hutan Alam menjadi tidak berhutan. Sejak tahun 2000, Jambi kehilangan 1.5 juta ha dari data KKI Warsi. Hal ini juga mengakibatkan adanya konflik penguasaan hutan antara masyarakat dengan perusahaan.

Ada tiga tawaran tujuan untuk kegiatan kunjungan lapang. Yaitu Hutan Desa (di kawasan Hutan Lindung) dan Hutan Adat (di lokasi APL) Senamat Ulu (Bungo), Hutan Adat Guguk (Merangin), dan Pengelolaan NTFP Jernang di Desa Lamban Sigatal, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun.

Selain melihat potensi hutan juga dapat dilihat energi alternatif seperti PLTKA yang dikembangkan oleh masyarakat Senamat Ulu. Dalam pengembangannya masyarakat berswadaya sebanyak 12 juta rupiah untuk pembuatan satu PLTKA. Di Guguk dapat dilihat Hutan Adat dengan hutan Merantinya yang masih bagus.

Sebuah tantangan untuk membangun pemahaman bersama diantara LSM untuk memahami  pengetahuan atas air sebagai komponen penting dalam ekosistem. Memasukkan pemahaman atas Daerah Aliran Sungai yg utuh terintegrasi ini ke dalam setiap kegiatan yg dilakukan. Telapak mengenalkan konsep IWRM NA melalui buku ‘biru’ MELIBATKAN MASYARAKAT, Sebuah Panduan tentang Pendekatan Negosiasi dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Kegiatan sharing ini membuka peluang untuk pelaksanaan kegiatan yg bisa mengembangkan pengetahuan dan kegiatan isu air, juga bagaimana keterkaitan antara isu air dan pengelolaan lahan. Misalnya bagaimana pelaksanaan Hutan Desa dan Hutan Adat dengan pengelolaan sungai yg mengalir di kawasan itu, pengetahuan hidrologi kebun sawit di lahan gambut dan lahan kering.

 

 

Sungai Siapa Punya?

Ditulis oleh Rita Mustikasari Senin, 23 Januari 2012 03:37

serah_terima_kades_ke_paguyuban_sepeda

Mencermati perkembangan terbaru pembentukan kelompok penjaga sungai atau biasa disebut kalijogo/river defender. Ada beberapa kelompok yg aktif menggeliat dan melakukan aksi menggalang kesadaran publik. Kegiatan ini terbentuk karena inisiatif paguyuban, komunitas masyarakat dan LSM atau kerjasama diantaranya.

Sebut sajatrasirumah_pak_kasun Paguyuban Trisno Kali Songo (http://kalisongoku.blogspot.com/). Mulai dari dibentuknya paguyuban, memastikan bahwa program penyelamatan sungai secara bersama adalah suatu bentuk usaha yg membutuhkan kelembagaan. Lembaga baru yg terbentuk ini mendapatkan amunisinya dari lingkungannya. Bukan hanya dalam bentuk dukungan non-materi tapi juga materi.

Pak kadus bersemangat agar kegiatan pembersihan sungai menjadi agenda dusunnya. Lembaga pemerintah seperti Dinas Perikanan mendukung dengan memberikan bantuan bibit ikan untuk kegiatan Tebar Benih konservasi Sungai Kalisongo. Bersih sungai dan Tebar Benih ikan di bagian tengah dan hulu DAS Kali Songo dilaksanakan tanggal 22 Januari 2012 yang melibatkan warga Dusun Dayu dan Dusun Complongan, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Prigi Mountain Bike Club (PMBC) pecinta sepeda gunung turut serta memeriahkan kegiatan ini. Ini adalah gambaran kegiatan river defender yg berada di Provinsi Jawa Timur dengan karakteristik daerah pedesaan.

Komunitas Ciliwung dan Transformasi Hijau (TRASHI) (http://transformasihijau.blogspot.com/) mengadakan Kemping di Ciliwung Bojong Gede, 21-22 Januari 2012. Acara ini memang bukan kemping biasa. Unik karena dilaksanakan keroyokan oleh komunitas-komunitas yang peduli akan Ciliwung.

Beberapa pemberi materi adalah pegiat lingkungan. Topik adalah: Mengenal Ekosistem Sungai, Pengenalan dan pengamatan Herfetofauna, Pengenalan dan pengamatan Burung, Pengenalan Serangga, Pengenalan Vegetasi, Pengenalan Safety Procedure Kegiatan di Sungai serta Dasar Fotography Jurnalistik. 

Ada 25 peserta kemping yang berasal dari SMA/ SMK dan perguruan tinggi sekitar Bogor dan Jakarta. Beberapa perwakilan Kelompok Pemuda maupun Komunitas yang berwilayah di Bogor, Bojong Gede, dan Jakarta berkumpul sekitar 20 orang. Obrolan santai dan interaksi dilaksanakan dengan pemuda Bojong. Dengan kompak pemuda-pemuda ini menjawab bahwa Tuhanlah yang menjadi pemilik sungai. Tetapi siapa yang bertanggung-jawab saat banjir karena luapan aliran air permukaan meluap karena daerah tangkapan air berubah menjadi bangunan beton?

Bahwa setiap sungai memiliki karakteristik persoalan yg berbeda antara satu dan lainnya. Sungai di pedesaan dan perkotaan perlu dikenali dan dipahami oleh masing-masing kelompok pengguna airnya. Benang merah kesamaan mungkin saja terjadi. Tetapi solusi dan aksi kegiatan akan sangat khas dan lokalitas, tergantung persoalan dan karakteristik daerahnya.

 

Pembangunan Infrastruktur. Sabo Dam di Kali Gendol dan Bendungan Tinalah

Ditulis oleh Rita Mustikasari Selasa, 10 Januari 2012 14:34

sabo_dam

DSC_0123DSC_0014s_progo

Ditulis: Jeanito seringan.awan[at]gmail.com

Sebagian besar pembangunan di negeri ini identitik dengan pengadaan barang dalam bentuk fisik, sesuatu yang kasat di lihat mata. Bangunan-bangunan yang didirikan tersebur mengandung maksud tertentu demi terciptanya efisiensi. Efisien dalam hal ini juga berarti menaklukkan alam yang liar. Celakanya, menaklukkan alam justru seringkali berbuah bencana bagi manusia.

Para ahli perencanaan tata kelola airpun demikian. Mereka mengajak para ahli pembangunan fisik untuk mendirikan bangunan-bangunan di badan-badan air. Dua diantaranya adalah Sabo Dam dan Bendungan sebagai contoh infrastruktur keairan di banyak sungai di Indonesia.

Sabo Dam di Lereng Gunung Merapi

Sebanyak 67 sabo dam di 12 sungai yang berhulu di Gunung Merapi rusak akibat diterjang banjir lahar dingin mulai November 2010 sampai bulan Mei 2011. Kerusakan terparah ada di sabo dam Kali Putih dan Kali Gendol[1].

Berdasarkan catatan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) sabo dam rusak terletak di sungai yang menjadi jalur lahar. Sungai-sungai tersebut adalah Kali Putih, Pabelan, Senowo, Krasak dan Bebeng di Kabupaten Magelang serta Kali Gendol, dan Opak di Sleman, Yogyakarta.

Hujan deras di awal tahun 2012 ini kembali mengakibatkan terjadinya aliran lahar Merapi di Kali Gendol[2]. Aliran yang cukup besar membawa material bebatuan besar membuat semua jembatan sabo dam sepanjang alur Kali Gendol ditutup. Kali ini aliran tak sampai meluap ke kanan dan kiri sungai yang dipadati pemukiman. Tetapi Camat cangkringan Samsul Bakri yang meninjau ke lapangan mengemukakan bahwa tanggul sabo dam mulai terkikis dan banyak yang ambrol sedikit demi sedikit.

Hal ini senada dengan pengalaman yang dirasakan sekretaris Dusun Srunen Agralno yang bermukim dekat dengan kali gendol saat erupsi Gunung Merapi awal November 2010. ia mengatakan bahwa sabo dam justru menghambat aliran lahar, akibatnya lahar malahan meluap ke kanan kiri sungai dan merusak pemukiman warga. Oleh karenanya, ia dan warga masyarakat menuntut agar sabo dam dirobohkan dan mengembalikan Kali Gendol sesuai bentang alaminya. Ia yakin bila Kali Gendol kembali ke bentuk alaminya akan dapat menampung seluruh aliran lahar yang datang dari Gunung Merapi.

Sementara BBWSO telah memiliki master-plan yang memuat pembangunan 279 sabo dam di seluruh sungai yang berhulu di Gunung Merapi sejak tahun 2000. Pembangunan sabo dam tersebut dilakukan secara bertahap. Namun akibat pengaruh erupsi Merapi dan banjir lahar dingin pembangunan sabo dam terganggu sehingga hanya terbangun 204.

BBWSO berpendapat bahwa sabo dam berfungsi untuk menahan material agar tidak langsung turun ke kawasan permukiman. Jika lahar langsung turun tanpa ada yang menghambat maka akan memiliki daya hancur yang luar biasa besar. Lahar membawa campur material mulai air, lumpur, pasir dan batu-batu besar. Jika tingkat kemiringan sungai tinggi maka arusnya semakin kuat. Karena itu perlu sabo dam untuk melandaikan dasar sungai.

Karena sabo dam, masyakarat dan pengelola sungai jadi berselisih pendapat.

Bendungan Tinalah

Ribuan warga di sekitar Sungai Tinalah, Kecamatan Samiglauh, Kulonprogo mendatangi kantor DPRD pada awal Januari 2012. Mereka menolak pembangunan Waduk Tinalah yang tercantum dalam draf Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW). Rencananya, waduk akan dibangun dengan cara membendung Sungai Tinalah[3].

Warga resah. Bila waduk jadi dibangun maka rumah dan sumber penghidupan mereka akan tergusur. Padahal warga yang berdomisili di sekitar aliran sungai itu lebih 10.000 orang atau 4.000 kepala keluarga.

Dr-Ing Ir Agus Maryono, ahli eko-hidraulik dari Magister Sains Teknik Universitas Gadjah Mada, mengemukakan bahwa  pembangunan bendung sungai akan mengakibatkan (i) mengubah keseimbangan angkutan sediman, (ii) merubah elevasi muka air tanah, (iii) pengurangan debit air pada sungai utama, (iv) peningkatan luas genangan, (v) penurunan dinamika alamiah sungai dan (vi) memutus daur hidup jenis ikan tertentu.

Ketika sebuah sungai dibendung, ia akan berubah dari ekosisitem terbuka menjadi ekosistem semi terbuka atau tertutup. Terjadilah pemutusan ekosistem alur sungai secara drastis, dari ekosistem yang bersifat terbuka dari hulu ke hilir menjadi ekosistem yang terpisah.

Heri Wibowo dari Koperasi Wana Lestari Menoreh, Kulonprogo mengatakan bahwa pemerintah bermaksud mendapatkan pasokan air irigasi dengan program waduk pembendung sungai Tinalah ini. Bila demikian maksudnya, harusnya dilakukan pengkajian terlebuh dahulu terhadap kebutuhan air untuk ekologi di bagian hilir dan hulu.

Polemik waduk ini akhirnya berakhir. Pada 3 januari 2011 Bupati Kulonprogo dr H Hasto Wardoyo mengemukakan pendapatnya pada Pansus dan Fraksi tentang Raperda RTRW yang dibacakan Wabup Drs H Sutedjo sepakat menghapus kata, kalimat maupun klausul rencana pembangunan Waduk Tinalah dari materi Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kulonprogo 2011-2031[4].

 

Halaman 1 dari 6

«MulaiSebelumnya123456SelanjutnyaAkhir»

Link